Hamdiah Tegaskan Pentingnya Penanganan Stunting Melibatkan Semua Stakeholder
POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Stunting merupakan isu kritis yang membutuhkan pendekatan multi-sektoral dan menjadi permasalahan kekurangan gizi utama balita Indonesia saat ini tidak terkecuali di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang berkepanjangan selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak di mana fase ini termasuk masa kritis dan penyakit infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan berada di bawah standar.
Stunting diakibatkan oleh malnutrisi. Selain itu, kejadian stunting pada balita juga erat kaitannya dengan status kesehatan ibu pada saat hamil dan masa sesudah hamil. Indikator status gizi anak berdasarkan indeks tinggi badan/usia yang ditetapkan oleh WHO. Anggota Komisi IV DPRD Kukar Hamdiah Z menyebutkan indikator ini berisi informasi tentang indikasi permasalahan gizi kronis disebabkan oleh kemiskinan, life style, dan pola asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, maka dari itu pentingnya penurunan stunting ini dari semua sektor,” ujar Madinah kepada media ini, Rabu (19/11/2025).
Diketahui, meski mengalami
penurunan, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih jauh dari target.
Stunting pada balita perlu mendapatkan
perhatian khusus karena dapat
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik,
perkembangan mental dan status kesehatan pada
anak. Stunting pada anak juga berhubungan dengan peningkatan
kerentanan anak terhadap penyakit. Kasus stunting pada anak juga dapat
dijadikan prediktor rendahnya kualitas sumber
daya manusia suatu daerah.
Kejadian
stunting sangat erat hubungannya dengan masalah gizi.
Hamdiah menyatakan keluarga memiliki peranan penting dalam terjadinya kasus
stunting pada anak. Salah satu langkah yang dapat
dilakukan oleh keluarga yaitu dengan pemberian gizi yang sesuai
dengan tubuh bayi sejak janin dalam kandungan, pemberian ASI Eksklusif,
dan pemberian makanan dengan gizi yang cukup serta pola asuh
balita yang tepat.
“Kesehatan
dan gizi merupakan salah satu
kebutuhan esensial anak usia dini yang harus
terpenuhi, dengan hal tersebut diharapkan anak
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
sesuai kelompok umur,” ucap Politisi PKB ini.
Perhatian terhadap pemenuhan zat gizi anak
hendaknya dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan anak yaitu dimulai dari
masa awal kehamilan hingga anak berusia
2 tahun, masa ini disebut dengan golden age
yaitu masa di mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang
pesat pada diri anak. “Setelah anak
berusia diatas 2
tahun, pemenuhan terhadap asupan zat gizi
harus tetap diperhatikan karena usia balita
merupakan usia yang rawan terhadap berbagai
penyakit dan masalah gizi.
Dalam penurunan stunting,
pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan sangat diperlukan. Oleh karena itu, peran
tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk
memberikan informasi kepada ibu balita/ibu hamil untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
agar bayinya tetap sehat dan asupan yang
dibutuhkan dari ASI dapat terpenuhi untuk bayi.
“Pola asuh
makan yang diterapkan oleh ibu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan balita karena kekurangangizi pada
masa balita akan bersifat tidak dapat pulih
sehingga pada masa ini balita membutuhkan
asupan makan yang berkualitas. Risiko stunting dapat
dikurangi dengan asupan nutrisi yang cukup da keterlibatan semua stakholder
terkait, kalau dari kami siap memberikan penguatan di penganggaran dan
pengawasan,” demikian Hamdiah.(ADV)